Mana yang lebih baik untuk anak? Sang Tuan Putri atau Si Pahlawan Super?
![]() |
pict 1: anak dan media televisi |
Seperti yang kita ketahui, pada era saat ini, kedekatan anak terhadap media bukanlah suatu hal yang asing lagi, khususnya media televisi. Hiburan untuk anak yang ditayangkan di televisi pun bermacam-macam, bisa berupa film-film yang dikemas menarik maupun cerita bersambung layaknya sinetron yang ditayangkan mulai dari satu kali seminggu hingga setiap harinya, apalagi pada saat liburan sekolah tiba, lihat saja di beberapa stasiun televisi, bahkan mereka memberi program khusus yang diberi judul sinema anak atau kartun spesial liburan, loh!
Boneka Barbie, hmmm pasti terdengar tidak
asing lagi bukan? Betul, siapa yang tidak kenal dengan boneka Barbie. Boneka
cantik dengan tubuh indah, berambut panjang yang umumnya sangat digemari
anak-anak perempuan hingga bahkan orang dewasa sekalipun. Tidak asing lagi juga
bahwa boneka cantik ini sering bermain film loh! Eitss tunggu dulu, maksudnya
disini adalah film animasi 4D yang diperankan oleh boneka Barbie dan
teman-temannya. Seri dalam film Barbie ini pun sudah banyak sekali, mulai dari
Barbie fairytopia, Barbie and diamond castle, Barbie as the princess and the
pauper, Barbie mermaidia, Barbie swanlake dan masih banyak lagi. Kali ini, kita
akan membahas kekuatan magic putri Anneliese yang memiliki kembaran seorang
gadis miskin yang bernama Erica, padahal mereka terlahir dari orangtua dan
lingkungan sangat berbeda. Namun, kali ini putri Anneliese dan Erica gak cuma
berduaan loh, karena keluarga The Incredibles yang terdiri dari Bob, Hellen,
Violet, Dash dan Jack-Jack Parr akan menantang kedua gadis Barbie tadi.
Keluarga Parr ini juga tidak kalah hebat loh daripada putri Anneliese dan
Erica, mereka adalah keluarga yang memiliki kekuatan super!! Woww, mau tahu apa
lagi perbedaan di antara mereka? Yukk, kita lihat dalam tabel dibawah :
Data umum
|
Jenis : Film
Judul : Barbie as the Princess
and the Pauper
Durasi : 80 menit, tahun 2004
|
Jenis : Film
Judul : The Incredibles
Durasi: 115 menit tahun 2004
|
Penyampaian content
|
Full animasi 4D yang menyerupai manusia dan beberapa hewan
|
Full kartun animasi menyerupai manusia
|
Content
|
Bercerita tentang seorang putri dan seorang gadis miskin yang sangat
mirip meski dilahirkan dari orang tua yang berbeda dan ditempat yang amat
berbeda. Meski wajah mereka sangat mirip, mereka memiliki warna rambut yang
berbeda, rambut sang putri berwarna pirang, sedangkan si gadis miskin
berwarna coklat tua. Pada suatu hari, mereka tidak sengaja bertemu ketika si
putri bersama penasehatnya sedang berjalan keluar istana dan mendengar gadis
miskin tersebut sedang bernyanyi, mereka menyadari kemiripan di antara
mereka. Tak lama setelah itu, sang putri diculik oleh patih kerajaan mereka
yang jahat dan ingin merebut kekayaan kerajaan dengan cara menikahi sang
putri. Putri Anneliese diculik karena ia akan dijodohkan oleh pangeran
kerajaan seberang untuk menyelamatkan rakyat mereka ditengah kondisi kerajaan
yang sedang bangkrut. Melihat hal ini, penasehat segera menemui Erica, si
gadis miskin untuk sementara berpura-pura menjadi putri , selama ia akan menjadi
mencari putri Anneliese yang asli.
|
Film ini bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki kekuatan
super dan harus hidup tengah masyarakat yang normal. Menjadi seseorang yang
berkekuatan super dan harus berpura-pura menjadi normal dirasa cukup sulit
bagi si ayah, Bob Parr dan kedua anaknya, Violet dan Dash, sehingga membuat
mereka merasa tidak normal dan menjadi anak yang tidak percaya diri. Ibu dan
ayah dari keluarga Parr ini sebelumnya merupakan seorang super hero yang
bertugas menyelamatkan dunia, namun karena sesuatu hal, superhero dilarang
lagi untuk menyelamatkan dunia dan harus hidup secara normal seperti
masyarakat lainnya. Pada suatu waktu, Bob Parr dijebak musuh masa lalunya
untuk bekerja sebagai superhero lagi dan kali ini, ia harus melibatkan
seluruh anggota keluarga demi menyelamatkan dunia dari kerusuhan.
|
Tujuan / materi yang ingin disampaikan/
pelajaran yang bisa diambil
|
·
Kebaikan
akan selalu menang, dan orang yang jahat pasti
akan menanggung akibatnya
·
Percayalah pada dirimu sendiri
·
Menjadi seseorang yang sabar dan baik hati
·
Saling tolong menolong jika dalam kesulitan
·
Perempuan juga dapat
menyelesaikan masalahnya sendiri
|
·
Kerjasama
antar anggota tim
·
Mencintai
keluarga adalah hal yang baik
·
Bagaimana
untuk menyesuaikan diri dengn lingkungan di sekitar kita
·
Tidak
boleh bersikap egois
·
Lakukan yang terbaik apa yang dapat kita lakukan
·
Masalah
yang diselesaikan bersama-sama akan menjadi lebih ringan
|
Sasaran pembaca/
penonton
|
· Semua umur, namun lebih cocok untuk anak usia sekolah agar nilai
moralnya dapat tersampaikan dengan baik
· Lebih cocok untuk anak perempuan karena tokohnya adalah
boneka Barbie (biasanya lebih identik dengan anak perempuan), berupa cerita
dongeng yang romantis dan banyak terdapat nyanyian-nyanyian didalamnya
|
·
Semua
umur, namun lebih cocok untuk anak usia sekolah, karena film ini fiktif dan
tidak seperti realita
·
Untuk
semua jenis kelamin, namun karena berisi tentang superhero dan pertarungan,
biasanya anak laki-laki lebih menyukainya dibanding anak perempuan.
|
Pengemasan media (kelebihan & kelemahan)
|
·
Sesuai
tujuan, menarik bagi anak-anak yang melihatnya, khususnya anak perempuan
·
Sesuai untuk semua umur, warna, tokoh dan
nyanyian-nyanyian di di dalamnya juga menarik bagi anak yang prasekolah
maupun yang usia sekolah.
|
·
Sesuai
untuk anak-anak yang suka berimajinasi tinggi
·
Sesuai
untuk anak-anak diatas balita, agar maksud dan tujuan dari film ini dapat
tersampaikan dengan baik, jika untuk anak dibawah balita dikhawatirkan belum
mengerti isi ceritanya.
·
Terdapat
banyak tindak kekerasan di dalamnya
|
Teori yang relevan
|
·
Konsep androgini
adalah keberadaan karakteristik maskulin dan feminin yang diinginkan pada
individu yang sama. (Bern; Spencer & Helmreich dalam Santrock, 2004)
·
Individu
yang androginis digambarkan lebih fleksibel dan lebih sehat secara mental
daripada individu yang maskulin maupun individu yang feminin. (Santrock,
2004)
·
Harga
diri juga sering meningkat bila anak-anak mengalami suatu masalah dan mencoba
menghadapinya, bukan malah menghindarinya. (Bednar, Wells & Peterson
dalam Santrock, 2004)
·
Namun,
anak-anak juga harus diberikan model untuk menjadi aktif dan berperilaku
prososial. (Clifford, Gunter & McAleer dalam Santrock, 2007)
|
·
Anak-anak
perlu diajarkan keterampilan keterampilan untuk memandang sesuau secara
kritis untuk menghadapi pengaruh kekerasan televisi dari sudut yang berbeda.
(Santrock, 2004)
·
Dukungan
emosional dan persetujuan sosial dalam bentuk konfirmasi dari orang lain juga
sangat memengaruhi harga diri anak-anak .(Harter dalam Santrock, 2004)
·
Harga
diri juga sering meningkat bila anak-anak mengalami suatu masalah dan mencoba
menghadapinya, bukan malah menghindarinya. (Bednar, Wells & Peterson
dalam Santrock, 2004)
·
Banyak
pakar bersikeras bahwa kekerasan televisi dapat menyebabkan perilaku agresif
atau anti sosial pada anak. (Anderson & Bushman dalam Santrock, 2007)
|
Barbie
lebih identik dengan anak perempuan, sedangkan film superhero yang isinya
adalah action lebih diidentikkan dengan tontonan anak laki-laki, hal ini
merupakan stereotipe gender yang sudah melekat di lingkungan kita. Menurut
Leaper dan Bifler (dalam Santrock, 2007), stereotype gender sudah ada bahkan
ketika anak berusia 2 tahun, lalu meningkat ketika anak berusia 4 tahun.
Penelitian ini menunjukkan bahkan ketika orang dewasa tidak secara eksplisit
melakukan sterotipe gender ketika berbicara dengan anak-anak, mereka memberikan
informasi kepada anak tentang gender dengan melakukan kategorisasi, labeling,
dan perbandingan antara laki-laki dan perempuan. Anak menggunakan petunjuk ini
untuk mengkonstruk pemahaman tentang gender dan menggunakannya sebagai arahan
dalam perilaku mereka. Begitu juga dengan jenis tontonan yang ada di televisi,
terkadang orang dewasa sering kali melarang anak laki-lakinya untuk menonton
film boneka dan anak perempuannya untuk menonton film action, padahal, makna
dan tujuan moral yang ingin disampaikan film tersebutlah yang paling penting.
Walaupun televisi hanya satu dari banyak
media yang massa yang memengaruhi perilaku anak, televisi adalah yang paling
berpengaruh. Televisi bisa memberi pengaruh positif pada perkembangan anak
dengan cara menyajikan program-program pendidikan yang dapat meningkatkan
motivasi, menambah informasi anak-anak tentang dunia di luar lingkungan mereka
dan memberi model-model perilaku prososial. Seperti yang dimodelkan oleh putri
Anneliese dan Erica yang saling tolong-menolong ketika salah satu dari mereka
mendapatkan kesulitan, mereka bersama-sama dengan tokoh lainnya, seperti King
Dominick dan Julian untuk mengalahkan dan memberi pelajaran kepada patih
kerajaan yang jahat dan berkhianat pada kerajaan serta rakyatnya. Ini
diharapkan dapat menjadi contoh perilaku prososial bagi anak yang menontonnya
bahwa setiap perilaku yang baik akan mendapat balasan kebaikan yang setimpal,
sebaliknya, perilaku yang buruk/tidak baik juga akan mendapat ganjaran yang buruk
pula. Si tokoh utama dalam film Barbie as the Princess and the Pauper ini
digambarkan juga memiliki sifat androgini, yaitu keberadaan karakteristik
maskulin dan feminin yang diinginkan pada individu yang sama (Bern; Spencer
& Helmreich dalam Santrock, 2004). Meski Barbie selalu menggunakan gaun dan
berpenampilan cantik, di film ini putri Anneliese mampu untuk menyelesaikan
masalahnya sendiri seperti berusaha kabur dari tempat penculikannya dan mencari
tahu siapa dalang dari penculikan tersebut, dan ia pun berhasil kabur dan
mengetahuinya. Dalam scene lainnya diceritakan bahwa putri Anneliese bekerja
sama dengan Julian untuk keluar dari jebakan yang diberikan oleh patih kerajaan
dengan tujuan untuk membunuh mereka, namun beruntungnya mereka mampu menyelamatkan
diri. Putri Anneliese dalam film ini tidak diceritakan sebagai gadis yang lemah
dan bodoh meski ia adalah seorang putri kerajaan yang anggun, begitu juga
dengan Erica, ia digambarkan sebagai sosok yang baik hati, kuat, dan rela
berkorban untuk kebaikan.
Berbeda dengan Barbie as the Princess and
the Pauper, pada film The Incredibles, permasalahan kompleks terdapat di dalam
keluarga Bob Parr. Bob Parr (The Incredible) dan Hellen Parr (Elastigirl)
dahulu adalah seorang superhero yang bertugas untuk menyelamatkan dunia dari
kerusuhan. Namun, dikarenakan suatu hal, saat ini para superhero tidak lagi
diizinkan untuk menyelamatkan dunia dan harus hidup layaknya orang normal dalam
masyarakat. Bagi Violet dan Dash, anak-anak dari keluarga ini, menjadi orang
yang normal sementara mereka memiliki kemampuan yang tidak normal adalah sangat
sulit. Mereka merasa sangat iri dengan Jack-Jack, adik mereka yang masih bayi
normal dan belum diketahui kekuatan apa yang dimilikinya. Karena keterbatasan
tersebut, Violet dan Dash menjadi anak yang tidak percaya diri dan tidak
memiliki banyak teman. Pada awalnya, keluarga ini diceritakan cukup kacau,
Violet dan Dash yang merasa keluarga mereka tidak normal dan selalu saja
bertengkar, mereka dibatasi melakukan berbagai hal yang mereka sukai dan
lagi-lagi selalu dituntut menjadi normal. Di akhir cerita, keluarga ini
akhirnya mampu bekerja sama demi menyelamatkan ayah mereka yang dijebak musuh
masa lalunya. Mereka akhirnya diberi kepercayaan oleh ibu mereka untuk
menunjukkan kekuatan mereka sebesar mungkin untuk melawan para penjahat dan
mereka pun akhirnya dapat bekerja sama dengan baik untuk menyelamatkan dunia.
Setelah peristiwa tersebut, Violet dan Dash pun mampu untuk percaya diri
kembali dan menyadari keluarga mereka adalah keluarga yang terbaik dan sangat
hebat.
Dengan menonton film The Incredibles ini,
anak-anak diharapkan mampu untuk bekerja sama di dalam sebuah tim, khususnya
dalam lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Anak-anak juga hendaknya mampu untuk
memahami bahwa suatu permasalahan apabila dikerjakan bersama-sama dan saling
tolong menolong akan semakin mudah untuk diselesaikan, ini mengajarkan pada
anak untuk tidak menjadi anti sosial dan memiliki sifat egosentrisme. Beberapa
pengkritik berpendapat bahwa hasil riset tidak menjamin kesimpulan bahwa
kekerasan televisi menyebabkan agresi (Freedman dalam Santrock, 2004). Namun,
sayangnya, banyak pakar bersikeras bahwa kekerasan televisi dapat menyebabkan
perilaku agresif atau anti sosial pada anak (Anderson & Bushman dalam
Santrock, 2007). Di dalam film ini memang banyak terdapat unsur kekerasan dan
perkelahian, namun untuk tujuan yang baik dan melindungi anggota keluarga
mereka. Meski begitu, hal inilah yang menjadi perdebatan bahwa mungkin saja
anak-anak akan meniru adegan kekerasan yang ditonjolkan dalam film ini. Untuk
menghindari hal tersebut maka yang harus dilakukan adalah pendampingan orang
dewasa ketika anak sedang menonton tayangan ini, dengan memberikan penjelasan
yang baik terhadap anak, diharapkan anak mampu mengambil sisi positif yang
diberikan film-film tersebut dan meninggalkan sisi negatifnya.
![]() |
pict 4. Dampingi anak saat menonton film |
Kedua
film di atas sama-sama menarik dan baik untuk disaksikan oleh anak-anak, nilai yang disampaikan pun sama-sama baik.
Namun secara pribadi, saya lebih menyukai The Incredibles, karena menurut saya,
cara penyampaian, alur permasalahan dan nilai moral yang ada di film tersebut
lebih kompleks dibanding Barbie as the Princess and the Pauper, meski banyaknya
adegan kekerasan yang ada di dalamnya. Namun, seperti yang telah dijelaskan di
atas, anak-anak perlu diajarkan keterampilan untuk memandang sesuatu secara
kritis untuk menghadapi pengaruh kekerasan televisi dari sudut pandang
yang berbeda. Dengan diajarkan
keterampilan tersebut, anak-anak diharapkan mampu lebih dominan untuk melihat
sisi positif dari mengapa adegan kekerasan tersebut dilakukan dibanding
menirukan sisi negatif adegan kekerasan yang ditampilkan. Berbeda dengan film
Barbie as the Princess and the Pauper, dalam hal penyelesaian masalah, Barbie
menampilkan sesuatu yang lebih mudah dan terkesan sangat cepat, ditakutkan hal
ini mengajarkan pada anak-anak bahwa masalah-masalah dapat dengan mudah
dipecahkan dan segala sesuatu berakhir baik pada akhirnya. Selanjutnya, saran
untuk orang tua adalah bahwa mendampingi anak dalam menonton televisi juga
sangat diperlukan. Anak-anak perlu diajarkan untuk memilih sesuatu yang patut
maupun yang tidak patut untuk diikuti. Jadi, bapak, ibu, maupun anda para calon
orang tua yang baik hati, dalam memilih tontonan anak bukan berarti anda hanya
menentukan tontonan tersebut menarik/tidak menarik atau cocok untuk anak
laki/perempuan loh, melainkan pilihlah tontonan sesuai dengan usia anak anda,
serta apakah tontonan tersebut memiliki esensi, makna dan nilai moral positif
yang dapat dijadikan model perilaku prososial bagi anak-anak yang menontonnya.
Nah, bapak/ibu, sudah siap kah memilih tontonannya serta mendampingi buah hati
yang sedang menonton? dan kalau menurut anda, siapa yang lebih cocok untuk
anak, sang putri atau si pahlawan super? ;)
"Ketika ada kekeliruan terhadap anak, maka semua pihak harus berani menginteropeksi diri masing-masing." -Kak Seto-
trailers :
Barbie as the Princess and the Pauper
The Incredibles