Monday, 28 October 2013

Addicted to Television? Segera Jauhkan Anak dari Televisi!



Di era globalisasi yang didukung dengan media elektronik seperti ini, televisi bukan lagi hal yang sulit untuk didapat, bahkan, televisi menjadi salah satu kebutuhan setiap orang untuk mendapatkan informasi apapun yang terjadi di sekitarnya. Terlepas dari fungsi  televisi itu sendiri, hal yang paling mengkhawatirkan adalah ketika si kecil terlalu addicted terhadap televisi. Misalnya saja, anak anda dapat menghabiskan waktu hingga 10 jam dalam menonton televisi. Anak anda tidak hanya menonton program yang ia gemari, namun ia juga menonton semua program yang ditayangkan oleh televisi dan mengesampingkan hal-hal lain seperti, belajar, membaca buku, mengerjakan PR, bahkan hingga lupa makan dan membersihkan tubuh. 






Ketertarikan terhadap tv yang berlebihan ini tentu saja membuat khawatir keluarga di rumah, terutama si ibu. Padahal, banyak hal lain yang lebih bermanfaat bisa dilakukan di rumah. Kecanduan pada media televisi ini juga dapat memengaruhi kesehatan si anak, mengurangi kehangatan antara orang tua dan anak, menghambat proses sosialisasi, serta membuat anak malas belajar.

Penyebab kecanduan anak terhadap media televisi ini bermacam-macam, mungkin saja hal tersebut dikarenakan kurangnya pengawasan dari orang tua terhadap waktu untuk menonton televisi. Selain itu, anak yang tidak dibiasakan memiliki kegiatan bermanfaat lain akan dengan otomatis memilih televisi sebagai bahan eksplorasi lingkungannya. Lalu, bila si kecil sudah seperti ini, apalagi yang dapat dilakukan?

·          

  • Beri batasan pada anak dalam menonton televisi

Orang tua disarankan untuk menjadwal si anak dalam menonton televisi, misalnya hanya pada jam-jam tertentu ketika acara kartun kesayangan si anak sedang tayang dan mematikan televisi diluar jadwal tersebut.



  • Orang tua dan keluarga juga harus ikut “membatasi” diri

Bukan hanya si anak, namun, orang tua dan keluarga juga harus mendukung jadwal si anak untuk tidak menghidupkan televisi di luar jadwal menonton anak yang telah ditentukan. Karena, anak bisa saja mencontoh dan terpengaruh dari lingkungan keluarganya.



  • Beri anak aktivitas yang lebih bermanfaat

Di tengah maraknya tayangan televisi yang kurang mendidik untuk anak-anak, orang tua dapat memberikan aktivitas lain, seperti olahraga, bermain, membaca buku dan lain-lain di luar jam belajarnya.



  • Pilih DVD, CD dan TV berlangganan

Untuk menghindari tayangan televisi dan iklan yang buruk bagi anak, orang tua dapat memilih acara atau program televisi sendiri dengan menggunakan fasilitas DVD, CD ataupun menggunakan TV berlangganan yang sesuai dengan usia anak anda. Selain itu, cara ini dapat memudahkan orang tua dalam mengontrol tayangan yang ditonton si anak.



  •  Jangan menyediakan televisi di kamar pribadi si anak

Tentu saja hal ini sangat dilarang karena dengan memberikan fasilitas televisi di kamar anak, justru akan membuat anak makin ketagihan menonton tv dan si anak akan menganggap orang tuanya mengijikan ia untuk menonton tv terus-menerus. Sediakan televisi hanya di ruang keluarga, agar kegiatan menonton anak dapat dikontrol oleh orang tuanya.



  • Berikan anak alat hiburan lainnya

Mungkin televisi adalah salah satu alat hiburan bagi anak saat ia merasa bosan dan tidak memiliki aktivitas. Namun, televisi bukanlah satu-satunya alat yang dapat diberikan. Sesekali, ajak anak untuk berlibur diluar rumah, seperti ke kebun binatang dan taman hiburan, atau mungkin sebagai alternatif lain, berikan anak alat permainan yang lebih aktif dan menarik, seperti bola, boneka, lego, buku gambar, buku mewarnai, dan lain-lain.



  • Dampingi anak saat menonton televisi

Nah, ini yang paling penting! Saat si anak menonton televisi sebaiknya orang tua mendampingi untuk menjelaskan kepada anak mana yang baik ditiru dan mana pula yang tidak. Adakalanya anak juga akan bertanya beberapa hal yang tidak ia mengerti, dan tugas pendamping adalah menjelaskan hal tersebut dengan baik dan lugas kepada si anak.



Beberapa saran di atas dapat kita terapkan agar anak-anak terhindar dari perilaku addicted terhadap televisi, mengingat banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan jika anak kecanduan dalam menonton televisi. Anak-anak sebaiknya diberikan aktivitas yang bermanfaat dalam mendukung eksplorasi lingkungannya. Berbagai permainan aktif juga dapat diberikan pada agar dapat mengembangkan motorik halus dan kasarnya dengan baik. Jadi, sudah siap untuk menjauhkan anak dari televisi? Lakukan dari sekarang, sebelum terlambat! :) 

"Children are great imitators. So give them something great to imitate." - Anonymous

Wednesday, 3 October 2012

Citizen Duane (2006)

Kuis Psikologi Remaja I




1. Jelaskan pengaruh keluarga dalam pembentukan identitas Duane Balfour ! 
   Pengaruh keluarga dalam pembentukan identitas Duane dalam film ini cukup besar. Ini terlihat dalam semua keputusan yang ia tentukan merupakan pertimbangan atas keluarganya. Pengaruh dari almarhum ayahnya yang pemberani dan percaya diri, ibunya yang cukup keras dalam mendidik Duane dan nasihat-nasihat dari paman serta adiknya yang penurut ikut menentukan baik-buruk perilakunya. Duane yang sedang dalam masa remajanya lebih memilih memberontak dari otoritas ibunya dan mendengarkan nasihat-nasihat dari pamannya yang terkadang salah ia artikan. Namun pada akhirnya, setelah ia berusaha untuk mencari identitas dirinya, khususnya setelah mencalonkan diri menjadi walikota, Duane sadar siapa ia sebenarnya dan berusaha menjalani identitas yang ia dapatkan dengan bahagia, meski cukup bertentangan dengan ambisi sebelumnya.

2. Membandingkan konsep diri Duane Balfour dan Chad Milton !
  Chad Milton adalah cucu dari salah seorang yang sangat berkuasa di daerah tempat tinggalnya, namun hal ini menjadikan Chad menjadi anak yang sombong, sok jagoan dan selalu meremehkan orang-orang yang ada di sekitarnya hanya karena ia bertubuh lebih besar dan baik dalam hal olahraga. Berbeda dengan Chad, pada awalnya Duane adalah anak yang memiliki konsep diri yang positif, ia sangat percaya diri dan pintar, namun setelah ia dikalahkan secara memalukan oleh Chad, Duane menjadi marah dan selalu berusaha untuk menjatuhkan Chad. Duane semakin berambisi untuk tidak membuat Chad berkuasa dan tidak lagi sombong hanya karena ia adalah cucu dari walikota. Duane adalah anak dengan konsep diri yang positif, khususnya dalam hal menulis dan berpidato, sehingga mencari cara untuk mengalahkan Chad dan agar ketidak-adilan yang ia rasakan dapat dihapuskan.

3. Bagaimana proses asimilasi dan akomodasi Duane Balfour sehingga dia dapat mengakomodasi proses kognitif dari gagal menjadi berhasil?
  Asimilasi adalah memasukkan informasi baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Pada awalnya, konsep atau kerangka kerja mental (skema) yang ada dimiliki Duane adalah bahwa ia harus menang dari orang lain, maka dari itu ketika ia dikalahkan dalam pemilihan oleh Chad Milton, ia merasa marah dan tetap harus mengalahkan Chad. Namun, setelah itu Duane memiliki asimilasi bahwa yang dapat ia lakukan bukan hanya mengalahkan Chad namun sekaligus melawan nenek Chad, Kelly Milton, yang merupakan seorang walikota. Dan yang dilakukan Duane adalah juga ikut mencalonkan diri sebagai walikota untuk melawan Kelly Milton dan satu orang kandidat lainnya. Duane dengan dibantu adiknya, Maurie, menghabiskan waktunya untuk berkampanye kepada orang-orang disekitarnya, meski perilakunya ini ditentang ibunya. Setelah proses pencalonannya sebagai walikota nya yang cukup panjang dan ia cukup berkonflik dengan beberapa orang, teutama si pacar, Duane merasa letih dan ingin berhenti melakukan hal tersebut, dan tentu saja ibunya sangat mendukung hal ini. Disinilah terjadi akomodasi, yaitu penyesuaian terhadap informasi baru, dimana ternyata ia tidak harus berambisi selalu menang dari orang lain. Menurut Duane, yang menang adalah pemenang, namun kalah bukan berarti pengecut, karena itu hanyalah sebuah kompetesi yang pasti ada menang dan kalah di dalamnya, dan ia pun hanya harus tetap hidup bahagia bersama orang-orang yang ada di sekitarnya apapun yang terjadi.

4. Jelaskan locus of control Duane Balfour!
  Locus of Control adalah persepsi individu terhadap suatu kejadian. Dan pada film Citizen Duane, si tokoh utama, Duane Balfour memiliki external locus of control. Ini terlihat dari sikap Duane yang menyalahkan orang lain dan lingkungannya ketika ia kalah dalam pemilihan ketua siswa di sekolah karena dikalahkan oleh Chad Milton. Karena itulah Duane seakan-akan menjadi berambisi untuk membaas dendam dengan melakukan berbagai cara terhadap Chad, termasuk akhirnya berusaha untuk mengalahkan Kelly Milton, nenek dari Chad Milton yang juga merupakan seorang walikota dan akan mencalonkan diri kembali pada pemilihan walikota. Duane belum menyadari internal locus of control, yaitu dengan mengevaluasi apabila kesalahan itu dikarenakan faktor dari dirinya sendiri.


"maybe you lose the game, but it doesn't mean that you are a loser"

Saturday, 23 June 2012

anak & media:

Mana yang lebih baik untuk anak? Sang Tuan Putri atau Si Pahlawan Super?

pict 1: anak dan media televisi
     
            Seperti yang kita ketahui, pada era saat ini, kedekatan anak terhadap media bukanlah suatu hal yang asing lagi, khususnya media televisi. Hiburan untuk anak yang ditayangkan di televisi pun bermacam-macam, bisa berupa film-film yang dikemas menarik maupun cerita bersambung layaknya sinetron yang ditayangkan mulai dari satu kali seminggu hingga setiap harinya, apalagi pada saat liburan sekolah tiba, lihat saja di beberapa stasiun televisi, bahkan mereka memberi program khusus yang diberi judul sinema anak atau kartun spesial liburan, loh!
      Boneka Barbie, hmmm pasti terdengar tidak asing lagi bukan? Betul, siapa yang tidak kenal dengan boneka Barbie. Boneka cantik dengan tubuh indah, berambut panjang yang umumnya sangat digemari anak-anak perempuan hingga bahkan orang dewasa sekalipun. Tidak asing lagi juga bahwa boneka cantik ini sering bermain film loh! Eitss tunggu dulu, maksudnya disini adalah film animasi 4D yang diperankan oleh boneka Barbie dan teman-temannya. Seri dalam film Barbie ini pun sudah banyak sekali, mulai dari Barbie fairytopia, Barbie and diamond castle, Barbie as the princess and the pauper, Barbie mermaidia, Barbie swanlake dan masih banyak lagi. Kali ini, kita akan membahas kekuatan magic putri Anneliese yang memiliki kembaran seorang gadis miskin yang bernama Erica, padahal mereka terlahir dari orangtua dan lingkungan sangat berbeda. Namun, kali ini putri Anneliese dan Erica gak cuma berduaan loh, karena keluarga The Incredibles yang terdiri dari Bob, Hellen, Violet, Dash dan Jack-Jack Parr akan menantang kedua gadis Barbie tadi. Keluarga Parr ini juga tidak kalah hebat loh daripada putri Anneliese dan Erica, mereka adalah keluarga yang memiliki kekuatan super!! Woww, mau tahu apa lagi perbedaan di antara mereka? Yukk, kita lihat dalam tabel dibawah :

pict 2: Barbie as the Princess and the Pauper

pict 3: The Incredibles

Data umum
Jenis :  Film
Judul : Barbie as the Princess and the Pauper
Durasi : 80 menit, tahun 2004
Jenis : Film
Judul : The Incredibles
Durasi: 115 menit tahun 2004
Penyampaian content
Full animasi 4D yang menyerupai manusia dan beberapa hewan
Full kartun animasi menyerupai manusia
Content
Bercerita tentang seorang putri dan seorang gadis miskin yang sangat mirip meski dilahirkan dari orang tua yang berbeda dan ditempat yang amat berbeda. Meski wajah mereka sangat mirip, mereka memiliki warna rambut yang berbeda, rambut sang putri berwarna pirang, sedangkan si gadis miskin berwarna coklat tua. Pada suatu hari, mereka tidak sengaja bertemu ketika si putri bersama penasehatnya sedang berjalan keluar istana dan mendengar gadis miskin tersebut sedang bernyanyi, mereka menyadari kemiripan di antara mereka. Tak lama setelah itu, sang putri diculik oleh patih kerajaan mereka yang jahat dan ingin merebut kekayaan kerajaan dengan cara menikahi sang putri. Putri Anneliese diculik karena ia akan dijodohkan oleh pangeran kerajaan seberang untuk menyelamatkan rakyat mereka ditengah kondisi kerajaan yang sedang bangkrut. Melihat hal ini, penasehat segera menemui Erica, si gadis miskin untuk sementara berpura-pura menjadi putri , selama ia akan menjadi mencari putri Anneliese yang asli.
Film ini bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki kekuatan super dan harus hidup tengah masyarakat yang normal. Menjadi seseorang yang berkekuatan super dan harus berpura-pura menjadi normal dirasa cukup sulit bagi si ayah, Bob Parr dan kedua anaknya, Violet dan Dash, sehingga membuat mereka merasa tidak normal dan menjadi anak yang tidak percaya diri. Ibu dan ayah dari keluarga Parr ini sebelumnya merupakan seorang super hero yang bertugas menyelamatkan dunia, namun karena sesuatu hal, superhero dilarang lagi untuk menyelamatkan dunia dan harus hidup secara normal seperti masyarakat lainnya. Pada suatu waktu, Bob Parr dijebak musuh masa lalunya untuk bekerja sebagai superhero lagi dan kali ini, ia harus melibatkan seluruh anggota keluarga demi menyelamatkan dunia dari kerusuhan.
Tujuan / materi yang ingin disampaikan/
pelajaran yang bisa diambil
·   Kebaikan akan  selalu menang, dan orang yang jahat pasti akan menanggung akibatnya
·   Percayalah pada dirimu sendiri
·   Menjadi seseorang yang sabar dan baik hati
·   Saling tolong menolong jika dalam kesulitan
·   Perempuan juga dapat menyelesaikan masalahnya sendiri
·       Kerjasama antar anggota tim
·       Mencintai keluarga adalah hal yang baik
·       Bagaimana untuk menyesuaikan diri dengn lingkungan di sekitar kita
·       Tidak boleh bersikap egois
·       Lakukan yang terbaik apa yang dapat kita lakukan
·       Masalah yang diselesaikan bersama-sama akan menjadi lebih ringan

Sasaran pembaca/
penonton
·  Semua umur, namun lebih cocok untuk anak usia sekolah agar nilai moralnya dapat tersampaikan dengan baik
·  Lebih cocok untuk anak perempuan karena tokohnya   adalah boneka Barbie (biasanya lebih identik dengan anak perempuan), berupa cerita dongeng yang romantis dan banyak terdapat  nyanyian-nyanyian didalamnya

·      Semua umur, namun lebih cocok untuk anak usia sekolah, karena film ini fiktif dan tidak seperti realita
·      Untuk semua jenis kelamin, namun karena berisi tentang superhero dan pertarungan, biasanya anak laki-laki lebih menyukainya dibanding anak perempuan.
Pengemasan media (kelebihan & kelemahan)
·      Sesuai tujuan, menarik bagi anak-anak yang melihatnya, khususnya anak perempuan
·      Sesuai  untuk semua umur, warna, tokoh dan nyanyian-nyanyian di di dalamnya juga menarik bagi anak yang prasekolah maupun yang usia sekolah.
·       Sesuai untuk anak-anak yang suka berimajinasi tinggi
·       Sesuai untuk anak-anak diatas balita, agar maksud dan tujuan dari film ini dapat tersampaikan dengan baik, jika untuk anak dibawah balita dikhawatirkan belum mengerti isi ceritanya.
·      Terdapat banyak tindak kekerasan di dalamnya
Teori yang relevan
·      Konsep androgini adalah keberadaan karakteristik maskulin dan feminin yang diinginkan pada individu yang sama. (Bern; Spencer & Helmreich dalam Santrock, 2004)
·      Individu yang androginis digambarkan lebih fleksibel dan lebih sehat secara mental daripada individu yang maskulin maupun individu yang feminin. (Santrock, 2004)
·      Harga diri juga sering meningkat bila anak-anak mengalami suatu masalah dan mencoba menghadapinya, bukan malah menghindarinya. (Bednar, Wells & Peterson dalam Santrock, 2004)
·      Namun, anak-anak juga harus diberikan model untuk menjadi aktif dan berperilaku prososial. (Clifford, Gunter & McAleer dalam Santrock, 2007)
·      Anak-anak perlu diajarkan keterampilan keterampilan untuk memandang sesuau secara kritis untuk menghadapi pengaruh kekerasan televisi dari sudut yang berbeda. (Santrock, 2004)
·      Dukungan emosional dan persetujuan sosial dalam bentuk konfirmasi dari orang lain juga sangat memengaruhi harga diri anak-anak .(Harter dalam Santrock, 2004)
·      Harga diri juga sering meningkat bila anak-anak mengalami suatu masalah dan mencoba menghadapinya, bukan malah menghindarinya. (Bednar, Wells & Peterson dalam Santrock, 2004)
·      Banyak pakar bersikeras bahwa kekerasan televisi dapat menyebabkan perilaku agresif atau anti sosial pada anak. (Anderson & Bushman dalam Santrock, 2007)

      Barbie lebih identik dengan anak perempuan, sedangkan film superhero yang isinya adalah action lebih diidentikkan dengan tontonan anak laki-laki, hal ini merupakan stereotipe gender yang sudah melekat di lingkungan kita. Menurut Leaper dan Bifler (dalam Santrock, 2007), stereotype gender sudah ada bahkan ketika anak berusia 2 tahun, lalu meningkat ketika anak berusia 4 tahun. Penelitian ini menunjukkan bahkan ketika orang dewasa tidak secara eksplisit melakukan sterotipe gender ketika berbicara dengan anak-anak, mereka memberikan informasi kepada anak tentang gender dengan melakukan kategorisasi, labeling, dan perbandingan antara laki-laki dan perempuan. Anak menggunakan petunjuk ini untuk mengkonstruk pemahaman tentang gender dan menggunakannya sebagai arahan dalam perilaku mereka. Begitu juga dengan jenis tontonan yang ada di televisi, terkadang orang dewasa sering kali melarang anak laki-lakinya untuk menonton film boneka dan anak perempuannya untuk menonton film action, padahal, makna dan tujuan moral yang ingin disampaikan film tersebutlah yang paling penting.
      Walaupun televisi hanya satu dari banyak media yang massa yang memengaruhi perilaku anak, televisi adalah yang paling berpengaruh. Televisi bisa memberi pengaruh positif pada perkembangan anak dengan cara menyajikan program-program pendidikan yang dapat meningkatkan motivasi, menambah informasi anak-anak tentang dunia di luar lingkungan mereka dan memberi model-model perilaku prososial. Seperti yang dimodelkan oleh putri Anneliese dan Erica yang saling tolong-menolong ketika salah satu dari mereka mendapatkan kesulitan, mereka bersama-sama dengan tokoh lainnya, seperti King Dominick dan Julian untuk mengalahkan dan memberi pelajaran kepada patih kerajaan yang jahat dan berkhianat pada kerajaan serta rakyatnya. Ini diharapkan dapat menjadi contoh perilaku prososial bagi anak yang menontonnya bahwa setiap perilaku yang baik akan mendapat balasan kebaikan yang setimpal, sebaliknya, perilaku yang buruk/tidak baik juga akan mendapat ganjaran yang buruk pula. Si tokoh utama dalam film Barbie as the Princess and the Pauper ini digambarkan juga memiliki sifat androgini, yaitu keberadaan karakteristik maskulin dan feminin yang diinginkan pada individu yang sama (Bern; Spencer & Helmreich dalam Santrock, 2004). Meski Barbie selalu menggunakan gaun dan berpenampilan cantik, di film ini putri Anneliese mampu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri seperti berusaha kabur dari tempat penculikannya dan mencari tahu siapa dalang dari penculikan tersebut, dan ia pun berhasil kabur dan mengetahuinya. Dalam scene lainnya diceritakan bahwa putri Anneliese bekerja sama dengan Julian untuk keluar dari jebakan yang diberikan oleh patih kerajaan dengan tujuan untuk membunuh mereka, namun beruntungnya mereka mampu menyelamatkan diri. Putri Anneliese dalam film ini tidak diceritakan sebagai gadis yang lemah dan bodoh meski ia adalah seorang putri kerajaan yang anggun, begitu juga dengan Erica, ia digambarkan sebagai sosok yang baik hati, kuat, dan rela berkorban untuk kebaikan.
      Berbeda dengan Barbie as the Princess and the Pauper, pada film The Incredibles, permasalahan kompleks terdapat di dalam keluarga Bob Parr. Bob Parr (The Incredible) dan Hellen Parr (Elastigirl) dahulu adalah seorang superhero yang bertugas untuk menyelamatkan dunia dari kerusuhan. Namun, dikarenakan suatu hal, saat ini para superhero tidak lagi diizinkan untuk menyelamatkan dunia dan harus hidup layaknya orang normal dalam masyarakat. Bagi Violet dan Dash, anak-anak dari keluarga ini, menjadi orang yang normal sementara mereka memiliki kemampuan yang tidak normal adalah sangat sulit. Mereka merasa sangat iri dengan Jack-Jack, adik mereka yang masih bayi normal dan belum diketahui kekuatan apa yang dimilikinya. Karena keterbatasan tersebut, Violet dan Dash menjadi anak yang tidak percaya diri dan tidak memiliki banyak teman. Pada awalnya, keluarga ini diceritakan cukup kacau, Violet dan Dash yang merasa keluarga mereka tidak normal dan selalu saja bertengkar, mereka dibatasi melakukan berbagai hal yang mereka sukai dan lagi-lagi selalu dituntut menjadi normal. Di akhir cerita, keluarga ini akhirnya mampu bekerja sama demi menyelamatkan ayah mereka yang dijebak musuh masa lalunya. Mereka akhirnya diberi kepercayaan oleh ibu mereka untuk menunjukkan kekuatan mereka sebesar mungkin untuk melawan para penjahat dan mereka pun akhirnya dapat bekerja sama dengan baik untuk menyelamatkan dunia. Setelah peristiwa tersebut, Violet dan Dash pun mampu untuk percaya diri kembali dan menyadari keluarga mereka adalah keluarga yang terbaik dan sangat hebat.
      Dengan menonton film The Incredibles ini, anak-anak diharapkan mampu untuk bekerja sama di dalam sebuah tim, khususnya dalam lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Anak-anak juga hendaknya mampu untuk memahami bahwa suatu permasalahan apabila dikerjakan bersama-sama dan saling tolong menolong akan semakin mudah untuk diselesaikan, ini mengajarkan pada anak untuk tidak menjadi anti sosial dan memiliki sifat egosentrisme. Beberapa pengkritik berpendapat bahwa hasil riset tidak menjamin kesimpulan bahwa kekerasan televisi menyebabkan agresi (Freedman dalam Santrock, 2004). Namun, sayangnya, banyak pakar bersikeras bahwa kekerasan televisi dapat menyebabkan perilaku agresif atau anti sosial pada anak (Anderson & Bushman dalam Santrock, 2007). Di dalam film ini memang banyak terdapat unsur kekerasan dan perkelahian, namun untuk tujuan yang baik dan melindungi anggota keluarga mereka. Meski begitu, hal inilah yang menjadi perdebatan bahwa mungkin saja anak-anak akan meniru adegan kekerasan yang ditonjolkan dalam film ini. Untuk menghindari hal tersebut maka yang harus dilakukan adalah pendampingan orang dewasa ketika anak sedang menonton tayangan ini, dengan memberikan penjelasan yang baik terhadap anak, diharapkan anak mampu mengambil sisi positif yang diberikan film-film tersebut dan meninggalkan sisi negatifnya.

pict 4. Dampingi anak saat menonton film

      Kedua film di atas sama-sama menarik dan baik untuk disaksikan oleh anak-anak,  nilai yang disampaikan pun sama-sama baik. Namun secara pribadi, saya lebih menyukai The Incredibles, karena menurut saya, cara penyampaian, alur permasalahan dan nilai moral yang ada di film tersebut lebih kompleks dibanding Barbie as the Princess and the Pauper, meski banyaknya adegan kekerasan yang ada di dalamnya. Namun, seperti yang telah dijelaskan di atas, anak-anak perlu diajarkan keterampilan untuk memandang sesuatu secara kritis untuk menghadapi pengaruh kekerasan televisi dari sudut pandang yang  berbeda. Dengan diajarkan keterampilan tersebut, anak-anak diharapkan mampu lebih dominan untuk melihat sisi positif dari mengapa adegan kekerasan tersebut dilakukan dibanding menirukan sisi negatif adegan kekerasan yang ditampilkan. Berbeda dengan film Barbie as the Princess and the Pauper, dalam hal penyelesaian masalah, Barbie menampilkan sesuatu yang lebih mudah dan terkesan sangat cepat, ditakutkan hal ini mengajarkan pada anak-anak bahwa masalah-masalah dapat dengan mudah dipecahkan dan segala sesuatu berakhir baik pada akhirnya. Selanjutnya, saran untuk orang tua adalah bahwa mendampingi anak dalam menonton televisi juga sangat diperlukan. Anak-anak perlu diajarkan untuk memilih sesuatu yang patut maupun yang tidak patut untuk diikuti. Jadi, bapak, ibu, maupun anda para calon orang tua yang baik hati, dalam memilih tontonan anak bukan berarti anda hanya menentukan tontonan tersebut menarik/tidak menarik atau cocok untuk anak laki/perempuan loh, melainkan pilihlah tontonan sesuai dengan usia anak anda, serta apakah tontonan tersebut memiliki esensi, makna dan nilai moral positif yang dapat dijadikan model perilaku prososial bagi anak-anak yang menontonnya. Nah, bapak/ibu, sudah siap kah memilih tontonannya serta mendampingi buah hati yang sedang menonton? dan kalau menurut anda, siapa yang lebih cocok untuk anak, sang putri atau si pahlawan super? ;)


"Ketika ada kekeliruan terhadap anak, maka semua pihak harus berani menginteropeksi diri masing-masing." -Kak Seto-

trailers :
Barbie as the Princess and the Pauper

The Incredibles

Monday, 2 April 2012

Movie’s Review : Diary of Wimpy Kid


Diary of Wimpy Kid (2010)



            Film ini diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama dari hasil karya penulis Jeff Kinney, bercerita tentang pemeran utamanya yaitu Greg Heffley (diperankan oleh Zachary Gordon), pelajar yang baru saja memasuki sekolah menengah (di Indonesia biasa disebut SMP) tingkat pertama. Ia diminta oleh ibunya untuk menuliskan perasaannya tentang hari pertama di sekolah menengahnya. Disini, Greg memiliki seorang sahabat yang bernama Rowley Jefferson (Robert Capron). Ia menganggap sahabatnya, Rowley, inilah yang belum siap untuk masuk sekolah menengah pertama karena sikapnya yang masih kekanak-kanakan, sedangkan Greg menganggap dirinya sudah cukup matang dan dewasa untuk memasuki sekolah tersebut. Keseluruhan film ini diceritakan dari sudut pandang Greg. Sehingga kita dapat mengetahui betapa rumitnya perkembangan psikoemosional dan psikososial untuk anak-anak akhir yang akan beranjak ke tahap remaja awal. Mereka lebih suka duduk dan berkumpul dengan kelompok mereka masing-masing dan menganggap bahwa diri mereka adalah populer. Mereka mulai menggunakan karakteristik internal dalam mendefinisikan diri mereka, seperti Greg yang lebih menilai bahwa dirinya sudah matang dan dewasa dibanding teman-temannya yang dianggap masih bersifat sangat kekanak-kanakan. Ia juga menganggap bahwa orang tua dan teman-temannya tidak terlalu mengerti akan keinginan dirinya (personal fable).

Rowley Jefferson & Greg Heffley


            Greg Heffley berambisi menjadi populer di sekolahnya, tepatnya ia ingin berada di dalam buku tahunan dengan label yang baik, terfavorit atau berprestasi. Berbagai cara ia lakukan, termasuk harus berhadapan dengan temannya, Patty Farrell, (Laine Macneil) yang juga sangat ambisius untuk menjadi siswa terbaik di sekolahnya. Greg mempunyai seorang kakak laki-laki yang bernama Rodrick Heffley (Devon Bostick)  yang tidak memberikan contoh baik padanya (lebih tepatnya ia di-bully oleh kakaknya). Rodrick bukannya memberi dukungan justru malah menakut-nakuti Greg bahwa betapa buruknya hari pertama di sekolah menengah. Hal ini juga yang membuat Greg ingin terlihat baik di depan kakaknya dan berambisi untuk menjadi populer dengan cara-cara yang ia anggap bukan seperti anak-anak lagi. Pada dasarnya, yang dialami dan dilakukan oleh Greg ini merupakan proses dari pencarian identitas diri. Ia tidak mau dianggap anak-anak lagi namun sebelum bisa meninggalkan pola kekanak-kanakannya.
            Di dalam sekolah Greg, terlihat sekali beberapa anak yang dikategorikan ke dalam status sebaya (menurut Wentzel & Asher, 1995), yaitu anak populer, anak rata-rata, anak yang diabaikan, anak yang ditolak, dan anak-anak kontroversial. Status sebaya ini paling terlihat ketika berada di kantin sekolah. Anak-anak yang populer, rata-rata, maupun kontroversial, mungkin bisa saja dengan mudah menempati tempat duduk bersama dengan kelompok mereka, sedangkan anak-anak yang yang diabaikan dan ditolak akan sangat kesulitan mendapat tempat duduk di kantin karena tidak seorang pun yang mengijinkan mereka untuk duduk disampingnya. Hal ini juga yang dialami oleh Greg dan Rowley di hari pertama mereka, sehingga mereka harus duduk di lantai kantin untuk memakan bekal mereka, bersama dengan Fregley (Grayson Russell), anak yang dianggap paling aneh disekolahnya. Ambisi Greg untuk menjadi populer semakin menjadi-jadi, ia melakukan berbagai hal agar dapat menjadi populer, termasuk untuk meninggalkan Rowley dan mencari sahabat baru, dengan salah satu tujuan agar mendapatkan tempat duduk di kantin sekolahnya ketika istirahat. Menurut Santrock (2002), “label” yang melekat pada diri anak usia ini akan memengaruhi self-esteem dan juga berpengaruh terhadap perkembangan psikoemosional dan psikososial mereka. Anak-anak yang populer biasanya akan memiliki self-esteem yang positif, namun anak-anak yang diabaikan atau ditolak kemungkinan akan memiliki self-esteem yang negatif, mereka akan merasa tidak percaya diri, sulit berkomunikasi dan sulit untuk bersosialisasi secara terbuka dengan orang lain.


 Rodrick & Greg Heffley

            Namun yang paling menarik dari cerita ini adalah ketika Greg merasa iri dengan sahabatnya, Rowley, yang sebelumnya ia anggap belum siap untuk bersikap lebih dewasa seperti dirinya. Rowley yang selama ini bersikap apa adanya tiba-tiba menjadi populer di kalangan teman-temannya, sedangkan Greg, ia justru semakin diabaikan. Karena suatu hal, akhirnya mereka bermusuhan. Masing-masing dari mereka mencari sahabat baru dan merasa gengsi untuk meminta maaf. Namun, yang namanya sahabat tentu saja ada ikatan di dalamnya, bukan? begitu juga dengan Greg dan Rowley. Konflik yang tidak kalah seru membuat mereka berbaikan kembali. Fungsi bersahabatan, yaitu kawan, pendorong, dukungan fisik, dukungan ego, perbandingan sosial dan keakraban/afeksi (Gottman & Parker dalam Santrock, 2002) pun melekat dalam persahabatan mereka. Pada akhirnya, keinginan Greg untuk menjadi siswa terbaik dalam buku tahunan memang belum terwujud, tetapi persahabatan antara dirinya dan Rowley cukup untuk menuliskan nama mereka sebagai sahabat terbaik di dalam buku tahunan tersebut.
            Persahabatan, ego, ambisi, komedi menjadi bumbu-bumbu yang menarik di dalam film ini. Film ini cukup recommended untuk ditonton, khususnya bagi kalian yang ingin mengetahui betapa rumitnya anak-anak pada usia ini mengeksplorasi identitas diri dan hubungan dengan teman sebaya mereka. Menarik bukan? ;)

 

Blog Template by BloggerCandy.com